TAHUN Baru Imlek merupakan perayaan paling dinanti dalam budaya Tionghoa. Salah satu tradisi yang melekat erat dengan perayaan ini adalah pemberian angpao. Amplop merah berisi uang.
Namun, angpao bukan sekadar hadiah uang; ia sarat dengan makna dan simbolisme yang mendalam. Warna merah dalam budaya Tionghoa melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan energi positif.
Menurut legenda, pada zaman dahulu, ada makhluk bernama Nian yang muncul setiap malam tahun baru dan menakuti penduduk desa. Penduduk kemudian menemukan bahwa Nian takut dengan warna merah dan suara keras.
Sejak itu, mereka menghias rumah dengan warna merah dan menyalakan petasan untuk mengusir Nian. Tradisi ini berlanjut hingga kini, di mana warna merah menjadi simbol perlindungan dan keberuntungan.
Pemberian angpao biasanya dilakukan oleh mereka yang sudah menikah kepada anak-anak atau anggota keluarga yang belum menikah. Hal ini melambangkan tanggung jawab generasi tua untuk memberikan berkah dan harapan baik kepada generasi muda.
Jumlah uang yang diberikan sering kali mengandung makna simbolis. Angka 8, misalnya, dianggap membawa keberuntungan karena dalam bahasa Mandarin, angka 8 terdengar seperti kata yang berarti "makmur".
Sebaliknya, angka 4 sering dihindari karena terdengar seperti kata "mati". Dalam tradisi pemberian angpao, etika memainkan peran penting. Amplop yang digunakan harus berwarna merah, bukan putih, karena putih diasosiasikan dengan duka cita.
Cara memberikan angpao juga harus dilakukan dengan sopan dan hormat. Yaitu menggunakan kedua tangan sambil membungkuk sedikit sebagai tanda penghormatan kepada penerima.
Sebagai bagian dari tradisi, uang yang dimasukkan ke dalam angpao sebaiknya dalam kondisi baru untuk melambangkan keberuntungan yang segar. Selain itu, penerima angpao biasanya mengucapkan terima kasih.