Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Akhmad Munir mengatakan dirinya akan mempersatukan kembali Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang belakangan sempat diwarnai dualisme.
“Saya akan mempersatukan PWI kembali yang selama ini terjadi dualisme dengan melakukan rekonsiliasi. Bismillah,” kata bakal calon Ketua Umum PWI Pusat tersebut saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, PWI merupakan wadah organisasi wartawan terbesar di Indonesia sehingga membutuhkan figur pemersatu dan menjiwai denyut organisasi. Munir optimistis memiliki kualitas tersebut.
“Figur ketua PWI ke depan merupakan kader PWI sejati yang memiliki networking (jaringan) yang luas di pusat dan daerah serta bisa menjalin kemitraan dengan semua stakeholder (pemangku kepentingan),” imbuhnya.
BACA JUGA:Dua Calon Ketum Melaju ke Kongres PWI 2025
BACA JUGA:Danantara Siap Kembangkan Proyek Hilirisasi Nikel
Munir menambahkan sebagai bagian dari sejarah perjuangan Indonesia, PWI sudah seharusnya menjaga DNA perjuangan. DNA yang dimaksud Munir ialah spirit perjuangan untuk selalu berkontribusi dalam membangun bangsa dan negara.
Akhmad Munir resmi mendaftar sebagai bakal calon Ketua Umum PWI Pusat periode 2025–2030 pada Jumat (22/8). Ia membawa misi mengakhiri dinamika internal PWI yang sempat diguncang dualisme kepengurusan sejak 2024.
"Bismillah, saya maju untuk menyatukan kembali PWI, melakukan rekonsiliasi, dan memperkuat organisasi, terutama di daerah," kata dia usai menyerahkan berkas pendaftaran ke Sekretariat Panitia Kongres PWI di Jakarta.
Saat mendaftar, Munir didampingi dua tokoh penting PWI, yakni Atal Sembiring Depari (Ketua Umum PWI Pusat periode 2018–2023) dan Zulmansyah Sekedang (Ketua Umum PWI Pusat versi KLB 2024).
Munir mengantongi dukungan dari sedikitnya 20 PWI provinsi. Dukungan itu merupakan modal bagi pria kelahiran Sumenep, Madura, itu untuk menghadapi Kongres PWI yang bakal digelar pada akhir pekan ini di BPPTIK Komdigi, Cikarang, Bekasi.
Dia meyakini dukungan yang dikantonginya merepresentasikan keinginan kuat dari daerah agar PWI kembali ke jalur organisasi yang solid.
"Darah saya PWI. Sejak mulai jadi wartawan tahun 1991, saya hidup bersama PWI, terutama di daerah. Saya ingin mengembalikan maruah PWI sekaligus memastikan daerah mendapat perhatian lebih besar," tuturnya.(*)